Tampilkan postingan dengan label Pendampingan Masyarakat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendampingan Masyarakat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Februari 2010

Selamatkan Laut, Selamatkan Masa Depan : Kelompok Nelayan Tanam dan Pelihara 20.000 pohon Mangrove


Kelompok Nelayan Bahari Desa Darunu, Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara dan Kelompok Berkat Usaha Baru di Bahowo, Kelurahan Tongkeina Kecamatan Bunaken, Kota Manado adalah dua contoh nyata keberhasilan dalam budidaya mangrove. Bahowo berjarak sekitar +30 menit dan Darunu 60 Menit dari pusat kota Manado. Kedua kelompok ini sebagian besar anggotanya adalah kaum perempuan.
Budidaya mangrove merupakan hal baru bagi kedua kelompok ini. Memang di dua lokasi ini banyak juga populasi mangrove yang tumbuh sendiri. Namun kondisinya sejak awal 1990-an sudah rusak akibat dikonversi menjadi tambak/empang. Juga, ditebang untuk dijadikan kayu bakar untuk pembakaran karang menjadi kapur maupun dijual ke Manado. Masyarakat pada waktu itu belum sadar akan manfaat mangrove.
Dalam rangka mendukung pelaksanaan WOC (World Ocean Conference) pada tanggal 12 Mei 2009 yang lalu, atas kerjasama PT. Tirta Investama (AQUA) dan Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP) Manado dilakukan penanaman mangrove di dua lokasi ini untuk pengembangan Mangrove Park.
Di Desa Darunu telah ditanam sebanyak 8.000 bibit pohon mangrove dan di Bahowo ditanam sebanyak 9.000 pohon. Bibit mangrove yang ditanam di kedua lokasi ini adalah jenis Rhizophora stylosa yang didatangkan dari Desa Kima Bajo Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara. Dalam perkembangan beberapa bulan selanjutnya ternyata banyak yang mati akibat ketidaksesuaian dengan kondisi substrat dan salinitas di perairan setempat.
Menurut Ibu Nospin Badoa dari Desa Darunu dan Ibu Meiske Tahulending dari Bahowo, kegagalan ini tidak membuat kelompok menjadi apatis namun malah merasa tertantang untuk menemukan penyebab dan solusinya. Atas dasar kepedulian terhadap lingkungan, maka kami anggota kelompok berinisatif melakukan penanaman kembali secara swadaya. Bibit yang ditanam kali ini berasal dari bibit mangrove jenis setempat yang dikumpulkan oleh para anggota kelompok.
Usaha ini ternyata berhasil, dimana sejumlah 12.435 bibit pohon mangrove yang ditanam di pantai Desa Darunu dan 14.350 pohon mangrove di pantai Bahowo Kelurahan Tongkeina telah bertumbuh dengan baik. Demikian tutur kedua ibu tersebut.
Disini, kelompok tidak hanya menanam dan menanam tetapi juga menjaga dan merawat. dengan melakukan monitoring secara rutin. Berdasarkan hasil beberapa kali monitoring dan evaluasi, kelompok menyimpulkan bahwa penanaman bisa berhasil apabila menanam bibit yang masih dalam bentuk propagul. Propagul adalah organ regenerasi jenis Rhizophora yang merupakan gabungan dari buah Rhizophora dan kecambahnya (baca: hipokotil). Hipokotil berfungsi sebagai cadangan makanan bagi buah mangrove ini yang telah ke luar dari buahnya. Propagul yang ditanam semuanya hidup, ungkap Ibu Nospin menjelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana. .
Usaha lain yang dilakukan Kelompok Bahari desa Darunu, untuk mendukung program pelestarian mangrove ini adalah penghimpunan dana (fundraising). Di samping iuran anggota, kelompok juga melakukan usaha pembibitan mangrove yang dijual ke pelaksana PNPM Lingkungan. Kelompok ini juga melakukan pembibitan pohon kemiri yang dijual ke pemerintah desa untuk penghijauan di lokasi sekitar mata air dan daerah tangkapan air yang ada di Darunu..
Kelompok Nelayan Bahari Desa Darunu dan Kelompok Berkat Usaha Baru Bahowo Kelurahan Tongkeina merupakan kelompok baru tetapi telah bertekad untuk terus belajar dan berkembang. Dan mengharapkan dukungan pemerintah daerah, pihak swasta, LSM, dan juga kelompok – kelompok yang sudah maju dan mandiri di Sulawesi Utara. ”Kelompok kami masih membutuhkan dukungan seperti pelatihan, exchange study dan sebagainya” tutur kedua ibu ini. Insiatif dan keuletan dari kelompok di kedua lokasi ini harus menjadi pemicu kita semua untuk menjaga alam sekitar.

Read more...

Kamis, 04 Juni 2009

Kuliah Kerja Nyata atau Kuliah Kerja Nyasar (KKN)

Program Kuliah Kerja Nyata, yang digulirkan oleh Pihak Kampus dan dilaksanakan oleh para mahasiswa, merupakan bagian dari program pengabdian dan pemberdayaan masyarakat. Mahasiswa dibagi dalam kelompok, masing -masing kelompok biasanya 7-8 orang dari berbagai fakultas. Kemudian mahasiswa turun langsung ke desa - desa dan hidup bersama dengan masyarakat desa, selama beberapa bulan tentunya. Melihat dan merasakan kehidupan orang kampung (desa). Kehadiran para mahasiswa/mahasiswi KKN di suatu desa, mendapat perhatian lebih dari masyarakat. Terlebih para pemuda/pemudi desa. Mereka mulai berkunjung ke posko dan memperkenalkan diri. Ada yang malu beneran (pemudi), ada yang malu-malu kucing (pemuda dan pemudi)  dan ada juga yang tidak tahu malu (pemuda). Itulah suasana awal kedatangan dan perkenalan antara  mahasiswa/i KKN dengan pemuda/i di posko. Sementara itu, dalam kelompok mahasiswa/i KKN, masih juga terjadi pertemanan yang lebih mendalam karena latar belakang fakultas dan basic pengetahuan yang berbeda.
Setelah beberapa hari di lokasi, Mahasiawa/i mulai melakukan pengamatan dan pendataan terhadap masyarakat dan pendekatan dengan pemerintah khususnya kepala - kepala  lingkungan. Mulai berusaha menyusun program, baik program fisik maupun non fisik. Program yang dibuat,  semuanya berdasarkan pengamatan mahasiswa KKN. Program fisik yang umum dilakukan mahasiswa KKN, adalah Membuat papan nama, batas lingkungan, gapura dan lain-lain. Sedangkan program non fisik yang biasa dilakukan adalah: Memberikan pelajaran kepada siswa sekolah Dasar di sekolah, memberikan pelajaran tambahan diluar jam sekolah. Dengan memberikan pelajaran ini, kebanyakkan mahasiswa/i, biasa dipanggil "guru".
Kembali ke program yang dibuat oleh Mahasiswa/i KKN. Program yang dibuat oleh mereka (Mahasiswa), pada umumnya berdasarkan pengamatan dan pendataan yang dilakukan. Mahasiswa/i tidak melakukan kajian kebutuhan atau Need Assesment bersama dengan masyarakat dan pemerintah desa. Dengan melakukan kajian kebutuhan, diharapkan apa yang menjadi kebutuhan di desa dapat dicarikan solusi secara bersama. Pemberdayaan mayarakat yang menekankan partisipasi masyarakat dapat dilakukan oleh Mahasiswa/i KKN. Untuk membuat kajian kebutuhan (need assesment), mahasiswa mungkin belum terlalu tahu dan paham tentang hal ini. Oleh karena itu, Pihak LPM  dan juga dosen pembimbing KKN, harus memberikan arahan bahkan pelatihan untuk mereka yang mau KKN. Pemberdayaan Masyarakat, seakan dilupakan oleh Mahasiswa, sehingga program KKN menciptakan Mahasiswa/i sebagai Sinterklas. Itu untuk mahasiswa yang mengambil KKN di desa.
Mereka yang mengambil KKN di perkotaan, yang biasa disebut juga KKN SATGAS, ceritranya mirip ama yang di desa. Tapi KKN Satgas yang ditempatkan dikampus, pada umumnya hanya duduk-duduk saja. Sistem dari program KKN ini, perlu ditinjau kembali, supaya pengabidian dan pemberdayaan masyarakat betul-betul dilakukan oleh Mahasiswa KKN.  Salam

Read more...

Jumat, 01 Mei 2009

Menghijaukan Laut

Sekarang ini, lagi gencar-gencarnya isu seputar "pemanasan global/globalwarming". Dan kiat-kiat untuk menangkalnya. Namun yang keliahatan adalah cuma bicara saja di hotel-hotel dengan ruangan ber-AC, tanpa ada action yang nyata. Atau ada juga yang melakukan tetapi sekedar 'proyek'. Dan ada yang memang tulus melakukan.

Terlepas dari semua itu, kami dari LPTP Manado, dalam rangka mendukung WOC dan mengantisipasi pemanasan global, kami merasa terpanggil untuk peduli terhadap lingkungan, dengan melakukan kegiatan nyata dilapangan yaitu: penanaman mangrove sebanyak 20.000 bibit di tiga lokasi, yakni Lokasi Pantai Molas (NDC : Nusantara Diving Center), Desa Bahowo, dan Desa Darunu, bekerjasama dengan Danone Aqua. Dua lokasi masuk dalam wilayah Manado (NDC dan Bahowo) dan satu lokasi masuk dalam wilayah Minut (Darunu).

Kegiatan penanaman mangrove ini, bertemakan 'MANGROVE PARK'. Tanggal 12 Mey 2009, menjadi puncak acara kegiatan ini, yang bertempat di NDC. Pada Saat ini, CSR Director Danone Perancis, akan hadir dan melakukan penanaman secara simbolis bersama pejabat  dan masyarakat di daerah ini. Ini secara tegas dan jelas bahwa aqua juga peduli terhadap lingkungan.Di samping para pejabat dan masyarakat, kegiatan ini juga melibatkan para Mahasiswa khususnya Mahasiswa Pecinta Alam dari Uniersitas Sam Ratulangi Manado. Manfaat dari hutan mangrove adalah: tempat bersarang burung-burung dan tempat bertelurnya ikan-ikan. Pohon-pohon mangrove yang bertumbuh dan menjadi hutan mangrove bisa meredam pemanasan global. Mari kita dukung program ini dan sama-sama menjaga dan melestarikan lingkungan.

Read more...

Selasa, 20 Januari 2009

JICA Kunjungi Talawaan Atas

Pemerintah dan Masyarakat Desa Talawaan Atas, pada hari Rabu 14 January 2009, terlihat lebih sibuk dari biasanya, karena ada kunjungan dari Tim Japan International Cooperation Agency (JICA). Kesibukkan pemerintah sudah terlihat sejak hari senin, dimulai dengan membersihkan kantor hukum tua karena kantor masih dalam tahap pembangunan sehingga harus dibersihkan, menyampaikan pengumuman melalui pengeras suara dengan tujuan mengundang masyarakat untuk hadir dan bertatap muka dengan tim dari JICA. Inilah kesibukkan sebagai persiapan untuk  menyambut tamu oleh pemerintah dengan masyarakat dibantu oleh petugas lapangan dari lptp Manado.

Kunjungan tim JICA ke  Desa Talawaan Atas, disamping bertatap muka langsung dengan masyarakat desa, mereka juga mau mendengar masukkan dari pemerintah dan masyarakat soal air bersih. Karena berdasarkan PRA (Participatori Rural Apprisal) yang dibuat oleh LPTP Manado, ditemukan bahwa Desa Talawaan Atas kekurangan air bersih. Dimana, sarana dan prasarana tidak memadai dalam hal ini bak penampung dan penyalur yang berada di lokasi gunung piring sudah rusak. Pipa -pipa juga sudah bocor dan rusak membuat debit air turun sehingga suplay air ke kampung berkurang. Dan PRA ini sudah dipaparkan di Majene, Sulawesi barat oleh Pak Rico dan Pak Angky.
Berdasarkan temuan dan pemaparan di Majene, pihak JICA mau membantu masyarakat desa Talawaan Atas. Dalam hal perbaikan Sarana dan Prasarana. Pada kesempatan ini juga dilakukan pelantikkan terhadap 12 orang masyarakat sebagai Tim Monitoring. Yang melantik tim monitoring ini adalah Bapak Hj. Azhar Karateng dari Makasar.
Maksud dibentuknya Tim Monitoring ini adalah agar mereka bisa memonitor dan mengevaluasi setiap pembangunan yang ada di Desa dan memberikan masukkan kepada Badan Perwakilan Desa (BPD) dan juga Hukum Tua. Tim monitoring ini fungsinya bukan sebagai hakim tetapi hanya sekedar  memberikan masukkan untuk membangun desa. Dan mereka yang duduk dalam tim monitoring ini dipilih langsung oleh masyarakat.
Kami masyarakat dan Pemerintah desa sangat berterima kasih kepada JICA apabila perbaikan sarana dan prasarana ini segera terealisasi, Ungkap  Romel Kaongang sebagai Hukum Tua Desa Talawaan Atas. 

Read more...

Senin, 10 November 2008

Dubes Canada Kunjungi Desa Talawaan Atas,Kecamatan Wori




















Pemda Minut dan Masyarakat Talawaan Atas begitu antusias menyambut DUBES Canada.















Bertemu dengan salah satu pemilik kebun pisang















Meninjau lokasi kebun pisang














Over size buah pisang pada tandan pisang dengan pupuk urea











Buah pisang yang sudah dioversizekan
















Tatap muka dengan masyarakat












Suasana pertemuan dengan dubes















Melihat buah cengkeh sedang dijemur

















Mesin potong rumput yang dibeli dgn uang canada fund














Hasil kebun yang disiapkan oleh masyarakat













TV lokal sedang mewawancarai dubes













Foto bersama dan Sayonara......

Read more...

Selasa, 04 November 2008

Masyarakat Desa Darunu,kecamatan Wori

Sejarah Singkat Desa Darunu

Untuk Masyarakat Desa Darunu, sejarah desa mereka memiliki dua versi yang berbeda namun untuk pemerintah desa saat ini menggabungkan dua versi tersebut menjadi sebuah ceritra sejarah yang baku untuk desa ini dan inilah ceritranya: Pada sekitar tahun 1833, ada seorang pengembara yang berasal dari daerah Bolaang Mongondow yang bernama: Ponto, datang ke daerah ini dan dia tinggal di suatu tempat yang dinamainya Ponto sama seperti namanya.

Setelah tinggal beberapa waktu lamanya dia merasa bosan sehingga ia memutuskan untuk melanjutkan pengembaraannya kearah barat. Dalam Perjalanan ini dia merasa sangat letih lalu dia beristirahat di bawah serumpun bambu dan pada saat mulai tertidur, ia mendengar suara langkah kaki orang yang sedang berjalan; terdorong oleh rasa ingin tahu ia bergegas bangun dan mencari- cari asal suara tersebut dan ternyata langkah kaki seorang wanita. Dia pun mendekati wanita tersebut lalu terjadilah perkenalan diantara keduanya.Nama wanita itu adalah Dalonu. Selang beberapa waktu kemudian mereka berdua pun menikah dan dari perkawinan ini mereka dikarunia seorang anak laki - laki kemudian mereka beri nama Ponto Dalonu sesuai dengan nama mereka berdua. Tempat dimana mereka tinggal diberi nama Ponto Dalonu juga.

Kira - kira pada tahun 1835, Dotu - dotu dari Pulau Siau mulai berdatangan ke tempat itu dan menetap di tempat ini hingga menjadi sebuah pemukiman penduduk; ketika itu datang juga orang Belanda ke tempat ini. Mereka semua kesulitan untuk menyebut nama tempat tersebut Ponto Dalonu hingga mereka hanya menyebut Dalonu yang selanjutnya berubah menjadi Darunu sampai saat ini.

Penduduk Desa Darunu

Jumlah penduduk Desa Darunu untuk tahun 2008 berjumlah 730 jiwa dengan rincian jumlah laki - laki 374 jiwa dan perempuan berjumlah 356 jiwa. Untuk mata pencaharian masyarakat hampir semuanya bermata pencaharian sebagai petani dan sebagian kecil sebagai nelayan dan tukang. Tingkat pendidikan untuk penduduk desa ini masih terbilang rendah karena data dari pemerintah desa menunjukkan bahwa hanya 12 orang yang mencapai pendidikan tinggi (D3 dan SPG), sedang sekitar 217 orang ( SMA dan SMP ) dan rendah 337 orang. Tingkat perekonomian masyarakat masih tergolong rendah dan ditambah lagi dengan tingkat pendidikan yang masih relatif rendah sehingga desa ini bisa dikategorikan sebagai desa miskin dan layak mendapatkan bantuan dari pemerintah baik pemerintah daerah maupun dari pemerintah pusat dan mungkin juga dari pihak swasta atau dari lembaga donor.


POTENSI SUMBER DAYA PERIKANAN DAN KELAUTAN
Desa Darunu merupakan salah satu desa yang berada di pesisir pantai bagian utara Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara. Karena letaknya di pinggir pantai dan hampir dikelilingi oleh hutan mangrove, desa ini memiliki banyak potensi perikanan dan kelautan. Potensi perikanan dan kelautan yang dimiliki di desa ini seperti ikan Goropa, Bobara, Baronang belum bahkan tidak diolah sama sekali seperti di daerah - daerah yang lain misalnya membuat keramba atau juga pengembangan jaring apung. Masyarakat di desa ini pada umumnya membeli ikan dari Manado pada hal mereka berada di pesisir pantai. Menurut mereka pembuatan keramba dan jaring apung itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit sehingga sampai saat ini belum ada yang mengolah potensi ini selain hanya menangkap dari alam.

Penangkapan dari alam selain menggunakan alat pancing dan mata kail seperti pada umumnya, nelayan di desa ini juga menggunakan jaring/pukat yang dalam bahasa daerahnya disebut Darape, namun kegiatan penangkapan ini tidak dilakukan secara rutin karena harus menunggu air laut surut. Dengan menggunakan alat pancing dan kail kebanyakan ikan yang didapat seperti ikan deho, malalugis, geropa dan bobara namun hasil yang didapat tidak terlalu banyak dan kalau dijual langsung habis di desa begitu juga menangkap dengan menggunakan pukat darape hasilnya hanya untuk konsumsi lokal atau di kampung saja. Disamping menggunakan tali pancing, kail dan jaring, masyarakat juga menggunakan racun yang berasal dari akar tumbuhan dan buah pohon yang biasa mereka sebut : Bori akar dan Bori buah yang menurut pengetahuan lokal bisa membunuh ikan. Mereka menggunakan Bori ini pada saat air laut surut kemudian ditebarkan di dalam kolam - kolam atau dipinggiran pohon bakau yang ada airnya. Ikan yang didapat adalah ikan - ikan kecil dan hanya menjadi konsumsi rumah tangga. Pengetahuan lokal lain untuk menangkap ikan adalah dengan menggunakan peralatan yang sangat sederhana berasal dari anyaman bambu yang biasa mereka sebut Sakuhee dan kegiatan menangkap ikan dengan menggunakan alat ini dinamakan Menakuhee.

Selain potensi ikan, desa ini juga memiliki potensi kelautan yang lain seperti : udang dan kepiting. Kepiting bakau banyak terdapat di desa ini tetapi kembali lagi belum ada yang mampu mengolahnya secara maksimal seperti pembuatan empang selain hanya menangkap dari alam. Penangkapan dari alam ini hanya dilakukan oleh satu orang saja yang menggeluti usaha penangkapan kepiting ini, sehingga banyak orang dari luar desa seperti dari Desa Mantehage, Lantung yang datang dan menangkap kepiting ini. Masyarakat di desa ini sudah mendapatkan bantuan untuk kelompok Nelayan dari Departemen Sosial dalam bentuk mesin tempel ( 40 PK ) dan mesin ketinting, Pukat, Lampu, dll namun sampai saat ini belum ada yang mengolah bantuan ini dengan benar.

POTENSI SUMBER DAYA PERTANIAN DAN PERKEBUNAN
Pada umumnya penduduk desa Darunu bermata pencahrian sebagai petani dan lahan pertanian serta perkebunan mereka ditanami aneka macam tanaman seperti : ubi kayu, pisang, kelapa, cengkeh, pala, mangga, durian, langsa, dll. Untuk Ubi kayu hanya menjadi konsumsi rumah tangga jika persediaan beras sudah habis, sedangkan untuk pisang disamping untuk konsumsi dalam rumah juga untuk dijual ke pasar di Manado. Kelapa lebih banyak dijadikan sebagai kopra dan dijual ke Manado begitu juga dengan cengkeh mangga ,dll. Potensi - potensi yang dimiliki ini banyak dan mereka sudah begitu berusaha sekuat tenaga untuk merubah takdir kehidupan tetapi pada umumnya masyarakat di desa ini tetap berada dalam lingkaran kesulitan ekonomi. Harga jual kelapa (kopra) setiap tahun bukannya meningkat tetapi semakin anjlok, Begitu juga dengan harga cengkeh, harga pisang dan harga komoditas pertaian lainnya dan petani hanya pasrah pada keadaan.

USAHA SIMPAN -PINJAM DI DESA

Dalam desa Darunu, masyarakat membuat usaha simpan - pinjam yang biasa mereka sebut kumpulan dengan bunga 10%/bulan.Untuk mereka yang punya simpanan di dalam kumpulan ini maka mereka akan semakin kaya sedangkan mereka yang melakukan pinjaman maka mereka akan semakin miskin karena kebanyakkan harta benda mereka dijual atau digadaikan untuk membayar utang kumpulan ini.Info lebih jelas klik di www.lptpmdo.org.

Read more...

Selasa, 28 Oktober 2008

Masyarakat Di Kecamatan Wori

Desa Budo

Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan Manado sebagai salah satu NGO/LSM di Sulawesi Utara terus berupaya membantu masyarakat kecil dengan program Micro Finance atau keuangan mikro. Program ini terlaksana berkat bantuan dari Canada Fund. Tahun 2006 -2007 program ini dilaksanakan di Desa Budo dan Talawaan Atas, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara. Desa Budo secara geografis berada di pinggir pantai dan sebagian masyarakatnya bermata pencarian sebagai nelayan. Dengan Latar belakang kehidupan sebagai nelayan ini, mereka mengajukan pinjaman dalam bentuk peralatan/mesin ketinting dan mesin kompresor dan juga perahu bagi bapak - bapak dan untuk kaum perempuan dalam bentuk uang tunai bagi mereka yang punya usaha seperti : tibo - tibo ikan, Pisang, penjual kue dan juga penjual nasi kuning, dll. Untuk nelayan yang mengajukan pinjaman dalam bentuk ketinting dan kompresor, mereka langsung ke toko di Manado untuk membeli peralatan/mesin tersebut tanpa ada intervensi dari pihak manapun.

Untuk nelayan yang membeli mesin ketinting dan kompresor, diberikan pelatihan secara khusus dari pihak LPTP Manado. Pelatihan ini diberikan dengan tujuan apabila terjadi kerusakkan terhadap alat/mesin tersebut pemilik sudah bisa memperbaikinya sendiri atau memperbaikinya secara bersama -sama dengan anggota lain yang mengikuti pelatihan apabila pemilik masih takut/ragu untuk melakukan perbaikan sendiri. Pada awalnya diberikan teory/penjelasan bagaimana proses kerja mesin ketinting dan dilanjutkan dengan pembongkaran dan pemasangan kembali. para nelayan yang mengikuti pelatihan mesin sampai saat ini dapat membongkar mesin ketinting sendiri kalau terjadi kerusakkan. Disamping memberikan pelatihan, LPTP Manado juga memberikan peralatan berupa kunci-kunci, tang, oben, dll, dilengkapi dengan berita acara penyerahan alat.

Peralatan ini diberikan dengan tujuan apabila terjadi kerusakkan terhadap alat/mesin di lapangan ( Desa ) maka mereka dapat menggunakan peralatan yang diberikan tersebut. Tujuan yang lebih universal dilakukan pelatihan dan pemberian peralatan ini adalah: Apabila terjadi kerusakkan terhadap alat/mesin mereka di Desa maka mereka tidak perlu membawa alat tersebut untuk diperbaiki di bengkel /toko di Manado yang membuat mereka harus mengeluarkan ongkos untuk biaya transportasi dan biaya perbaikan.





Pelatihan Mesin Ketinting bagi Nelayan











Peralatan yang diberikan ke Nelayan











Penyerahan Peralatan







Untuk kaum perempuan/ibu diberikan pinjaman dalam bentuk uang tunai bagi yang punya usaha seperti : penjual nasi kuning, tibo -tibo ikan, pisang, penjual kue, warung, dll. Untuk kaum perempuan, modal awal yang diberikan sebesar Rp.500.000 dan akan ditingkatkan apabila angsuran/penyetorannya bagus. Pemberian pinjaman akan ditingkatkan sesuai dengan raport masing - masing peminjam yang dinilai dari buku angsuran. Pemberian penjaman dan angsuran dilaksanakan setiap tanggal 8 dalam bulan berjalan dan dilakukan di lapangan. Field Staff/Staf lapangan selalu berada di sana untuk memberikan motifasi dan berdiskusi dengan masyarakat tentang berbagai hal yang terjadi baik untuk program maupun persoalan yang terjadi di desa dan bersama mencari solusinya. Solusi yang di ditemukan tersebut kemudian diinformasikan ke LPTP Manado dan juga ke pemerintah desa. Jika dibandingkan dengan koperasi atau Lembaga kredit yang lain program dari LPTP Manado menurut masyarakat Budo sangat membantu karena mereka bisa mengadukan pengeluhan untuk belum melakukan penyetoran atau hanya membayar bunga pinjaman kalau terjadi kendala di dalam rumah tangga mereka seperti: Sanak Keluarga yang mengalami duka, anak
/suami yang sakit, dll.Dengan adanya kendala - kendala ini maka keungan mereka sudah menipis sehingga belum bisa melakukan penyetoran dan LPTP Manado memaklumi dan mengerti dengan keadaan yang terjadi pada setiap anggotanya. Sekarang ini sudah banyak koperasi dan lembaga kredit yang masuk ke Desa Budo tetapi mereka ini tidak pernah mengerti dengan keadaan yang terjadi pada nasabah/anggotanya,ungkap para ibu.







Pencairan dan Angsuran Kelompok ibu.

Read more...

About This Blog

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP